Skip to content

Cermin untuk Tahun Baru 2019

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2018. Ada banyak cerita yang telah terjadi. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang belum tercapai hingga di penghujung tahun ini. Semuanya aku rangkum, aku dokumentasikan, untuk menjadi cerminan, pelajaran di tahun baru 2019 nanti.

Go-Jek Scholarship

Berawal dari mengikuti kelas berbayar di pertengahan tahun 2017, kelas Menjadi Android Developer Expert dari Dicoding ini memberikan aku kesempatan untuk menerima Go-Jek Scholarship. Baca ceritaku di sepanjang tahun 2017 hingga menuju tahun baru 2018 di sini.

Walaupun syaratnya aku tidak boleh terikat dengan instansi apapun, tapi hal itu tidak mengurungkan niatku, malah aku jadi memberanikan diri untuk resign dari Rumah Sakit (IT Manager) untuk mengejar cita-citaku.

Apakah berhasil? Setelah lama menunggu, hingga 2 kali proses interview, aku ditolak.

Apakah menyesal? Tentu tidak! Akan lebih menyesal lagi jika aku tidak berani mencoba.

Sanata System

Gagal menggali pengalaman di Go-Jek tak menyurutkan semangatku. Malah aku mulai bekerja sebagai Software Developer di Sanata System. Sebuah Software House yang menspesialisasikan exsistensinya dalam dunia Industri Kesehatan. Ga jauh-jauh dari Rumah Sakit juga akhirnya 😅

Sempat ditawari Go-Jek untuk bergabung di HaloDoc, tapi aku merasa HaiMed juga punya kesempatan yang besar untuk menembus pasar Indonesia, mulai dari Bali. Dan aku bertahan di sini.

Di sini aku diminta untuk mengembangkan aplikasi mobile berbasis iOS. Dan sebelum bergabung, aku memang sudah punya niat untuk beli MacBook Pro bekas punya temanku waktu itu, tapi akhirnya aku dipinjamkan MacBook Pro. Lucky me! Momennya pas 🙇‍♂️

Punya MacBook itu memang sepertinya syarat wajib untuk develop aplikasi iOS. Ya, mau ga mau. Dan rencananya juga nanti aku mau beli iPhone bekas untuk testing. Sekali lagi, mau ga mau. Loves Android by the way 😜

Flutter

Setelah ada MacBook Pro, yang pertama kali aku lakukan adalah, belajar Flutter 😅, running apps di Simulator iPhone. Cek repositori Flutterku di sini.

Kenapa ga pakai Xcode? Swift? Waktu itu aku berpikir untuk bisa deploy lebih cepat. Aplikasi untuk Android biarkan saja di develop seperti biasa, tapi untuk iOS pakai Flutter. Sehingga saat aplikasi siap untuk App Store, yang Android bisa segera menyusul.

Bener ga? Tidak! Selain waktu itu Flutter masih beta (waktu itu masih ada masalah dengan Maps), aku juga tidak memperhitungkan developer timnya. Sehingga rencana ini aku batalkan dan melanjutkan ke native iOS.

Tapi dari pelajaran ini aku dapat project Flutter pertama. Belajar yang dibayar 🤐

Apple Developer Academy

Merasa harus melanjutkan ke native iOS, aku mulai belajar dari beberapa kursus online, seperti Udacity, Udemy, Design Code. Karena memang sulit mencari kursus iOS offline di Bali. Hingga akhirnya aku mendapatkan informasi tentang Apple Developer Academy yang katanya hanya ada 3 di dunia, yaitu di Italia, Brasil, dan yang terakhir di Indonesia, bekerja sama dengan Bina Nusantara University (Binus). Cohort pertama di Asia ini dimulai tanggal 25 Juni 2018.

Seperti dibukakan jalan, Swaha 🙏, segalanya dipermudah. Bahkan saat pindahan kosan di Bali, sampai mencari kosan baru di daerah Tangerang Selatan. Semua hampir tanpa kendala. Cuma 1 hal yang mengganggu pikiranku waktu itu, berpisah dengan keluarga dan teman-teman di Bali.

Dan di malam saat meeting untuk persiapan Google I/O 2018 Recap di Bali selesai dilakukan, akhirnya aku ucapkan juga kata perpisahan pada beberapa teman yang kebetulan hadir di meeting tersebut.

Cerita selanjutnya tentang hari pertama di Apple Developer Academy bisa dibaca di sini.

Reviewer Dicoding

Salah satu hal yang unik di 2018 adalah menjadi Reviewer Dicoding untuk kelas Menjadi Android Developer Expert.

Dan menurut informasi dari teman-teman Reviewer yang lain, sebagian besar peserta melakukan plagiat dari repositoriku di GitHub. Baik untuk kelas MADE maupun KADE.

Pesanku tetap sama. Jangan melakukan plagiat! Karena yang akan rugi itu kalian sendiri. Percuma rasanya dapat sertifikat kelulusan, tapi ga dapat ilmunya. Perjalanan masih panjang kawan, lakukan yang terbaik yang kalian bisa.

Komunitas Developer

Beberapa hari adaptasi dengan kota baru, aku mulai aktif mengikuti kegiatan komunitas di sekitar Jakarta, seperti Jakarta iOS, Go-Learn, UXiD, Flutter, BukaTalks, Google Developer Kejar, JakartaJS, JVM Indonesia, dan DSC.

Beberapa tempat yang sempat aku datangi, seperti SCTV Studio, GoJek Headquarters, Tokopedia Tower, Menara Kibar, Mozilla Community Space, BukaLapak, MULA (CITOS), Menara BCA, Google Indonesia, dan Udacoding.

Google Developer Kejar

Mendaftar sebagai peserta Google Developer Kejar dan mendapatkan Google Scholarship sambil studi di Apple Developer Academy memang agak ngeri-ngeri-sedap. Karena jelas konsentrasi terbagi. Tapi tetap aku niatkan, dan akhirnya lulus di kelas Kotlin Android Developer Expert dari Dicoding.

Sebenarnya aku pengen jadi fasilitator untuk Google Developer Kejar di sini. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, saat ini hanya bisa sebagai peserta saja. Tapi jika nanti dirasa sudah ada waktu yang sedikit luang, aku berencana untuk ikut menjadi salah satu fasilitator di Jakarta. Doakan saja!

Google Cloud Summit ’18

Acara besar seperti ini biasanya hanya ada di Jakarta. Dan aku berkesempatan untuk mengikutinya.

Storytelling

Mulai Final Project dengan tim yang kita bentuk sendiri di Apple Developer Academy. Tim yang dibentuk dengan orang-orang yang punya ide dan ketertarikan yang sama rasanya memang berbeda. Tak butuh waktu lama rasanya untuk menyatukan kita.

Awalnya tema Final Project diambil dari ide Mini Challenge 1, tentang manipulasi suara manusia menjadi suara lain seperti suara tupai misalnya. Tapi aplikasi itu tak memiliki emosi, tidak juga memberikan impact untuk penggunanya. Datangnya mentor dari Apple memberikan ide untuk menyampaikannya dengan cerita. Munculah ide untuk membuat Storytelling. Bedtime Stories.

Dari ide dasar itu, akhirnya berkembang lagi setelah beberapa kali diskusi dengan tim. Akhirnya kita sepakat untuk mengambil tema sejarah. Tetap dengan Storytelling. Tentu saja dengan interaksi user dan iPhone-nya. Tapi interaksi yang bagaimana? Ini perlu riset lagi.

Beberapa artikel dan buku sejarah menjadi sasaran riset tim. Dengan semangat yang luar biasa, hari jumat dan sabtu masih menyempatkan diri untuk riset di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Salut 🇮🇩

Akan jadi aplikasi seperti apa? Siapa yang tau? Tinggal tunggu waktu nanti presentasi. Targetku ga muluk-muluk. Yang penting masuk App Store aja dulu.

Bermimpilah

Dari dulu aku memang ingin menjadi Software Developer. Tapi keadaan yang membuat aku selalu berada di posisi “hanya” sebagai support, bukan pemain utama.

Apa aku harus pasrah dengan keadaan? Tentu tidak! Setiap ada kesempatan aku selalu belajar, selalu ikut kegiatan di komunitas. Datang saja, pasang muka tebal, biar pun ga tau apa-apa. Framework yang dulunya asing, lama-kelamaan jadi akrab, walau tidak sampai mahir. Haruskah mahir? Itu tergantung kebutuhan.

Saat sudah menjadi Software Developer, apakah sudah selesai? Tentu tidak! Ini hanyalah sebuah permulaan dari perjalanan yang panjang. Teruslah belajar, cari peluang untuk jadi versi diri kita yang lebih baik dari yang sekarang.

Dan buat kalian yang masih menggapai mimpi, jangan pernah berhenti. Terus lakukan apa pun yang kalian impikan. Carilah mentor yang tepat agar dapat berlari lebih kencang.

Pepatah tua mengatakan,

“If you are 20-30 years old, you should FOLLOW a good boss, join a GOOD company… LEARN.”

Jack Ma – CEO Alibaba

Saat memulai ini semua, umurku sudah 35 tahun, tapi aku beruntung karena masih diberikan kesempatan untuk berkembang. Kalau aku yang sudah berumur ini bisa, kalian juga pasti bisa! Yang penting tetaplah lakukan yang terbaik, dan semoga yang terbaik menyertai kita!!

Published inJourney

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2014 All rights reserved.