Skip to content

Sampai jumpa lagi, Bali!

Tepat di pertengahan tahun 2018, di akhir bulan Juni ini. Aku akan meninggalkan Bali untuk sementara. Yang paling berat, tentu, meninggalkan teman-teman di komunitas yang sudah semakin solid di Bali. Terima kasih untuk SuBali, TanyaDev, GameDev Bali, WordPress Bali, Scrum Chapter Bali, UXiD Bali, BaliJS, Bali Android Developer, Google Developer Group Bali, Flutter Bali, Developer Student Clubs Bali, juga untuk temen-temen dari Indonesia Android Kejar Bali, dan Gapura Digital Bali. Terima kasih sudah menemani hari-hariku selama di Bali. Ya walaupun kebanyakan dari kalian adalah 4L, “lu lagi, lu lagi” haha..

Habiskan stok gagalmu!

Pepatah tua mengatakan,

“Makin sering kamu gagal, makin sukses kamu di masa depan.”

Berawal dari rasa kecewa atas komitmen Dicoding dan Go-jek dalam memberikan beasiswa dengan kesempatan magang di perusahaan startup raksasa. Padahal aku sudah berkomitmen dengan resign dari kantor, mengingat persyaratannya adalah “tidak ada ikatan apapun per 31 Desember 2017”. Kecewanya bukan karena gagal merasakan bekerja di perusahaan besar ya, tapi gagal merasakan suasana teamwork di sana, bagaimana cara mereka me-manage timnya, membuat standarisasi, membuat user agar bisa lebih engage dengan aplikasi buatan mereka. Intinya, aku kecewa karena gagal belajar hal yang baru.

Dulu, waktu aku masih bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Bali. Aku pernah melakukan Scrum dan gagal. Aku kecewa, tapi tetap mencoba hal baru dengan menggabungkan Scrum dan UX, berbekal panduan dari Design Sprint. Ya walaupun pada akhirnya gagal juga. Karena itulah, aku ingin tau dan belajar dari startup tersebut, bagian mana saja yang bisa aku improve untuk tipe-tipe orang tertentu. Jangan-jangan aku yang belum memahaminya? Waktu itu aku bahkan berdiskusi dengan direktur rumah sakit tersebut, meminta saran dari pengalaman beliau selama menjadi pemimpin perusahaan. Beliau pasti sudah pernah merasakan hal yang terburuk. Dan waktu itu, beliau mengatakan, “Kamu tidak bisa mengajarkan sesuatu, pada orang yang belum tertarik. Selalu ada pertanyaan, apa untungnya buat saya?”.

Pepatah tua mengatakan,

“Ketika kamu miskin dan terpuruk, semua kata-katamu terdengar seperti kentut.
Tapi ketika kamu sukses, suara kentutmu pun akan terdengar bijak dan menginspirasi.”

Jack Ma – CEO Alibaba

Ok, baiklah. Mungkin belum saatnya. Lebih baik perbaiki skill saja dulu. Karena menunggu kentut jadi wangi itu butuh waktu (sembah puyung).

Sanata System

Kemudian aku ikut bergabung dengan Sanata System, Software House khusus untuk sistem rumah sakit. Aku rasa hidupku sudah ada yang mengatur, tidak bisa jauh dari bidang healthcare, haha.. Sebagai developer untuk produk kesehatan rintisan, aku membayangkan alur sistem, dan memangkas beberapa hal yang bisa diotomatiskan. Tentu saja berkat kerja sama tim yang luar biasa. Produk ini disebut HaiMed, sebuah platform untuk mempermudah pasien mendapatkan pelayanan kesehatan denpan cepat, informatif, dan terintegrasi. Ada untungnya juga memiliki pengalaman 9 tahun menjadi IT di rumah sakit.

Baru saja bekerja sebagai developer, aku sudah difasilitasi Macbook Pro. Seri yang terbaru lagi. Resolusi 2018-ku benar-benar terwujud di bulan ke 2. Baca artikelnya di sini. Sebelum bergabung, memang sudah ada pembicaraan bahwa perusahaan akan serius untuk mendevelop orang, dan diharapkan aku bisa membantu untuk develop aplikasi di iPhone. Dan akhirnya, setiap hari mencoba hal-hal baru agar bisa membuat aplikasi untuk iOS. Salah satunya adalah Flutter dengan bahasa Dart. Aku mencoba Flutter selama 2 minggu penuh dan mendapati bahwa ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan di native. Dan kemudian memutuskan untuk kembali lagi menggunakan Xcode dengan bahasa Swift.

Take it, or leave it!

Pepatah tua mengatakan,

“Kesempatan tidak datang dua kali.”

Sambil mencoba beberapa hal baru untuk develop aplikasi di iOS, aku juga tetap terus mencari informasi, termasuk informasi kursus iOS, baik online maupun offline. Hingga beberapa hari lalu aku mendapatkan kabar bahwa, aku lulus tes seleksi beasiswa Apple Developer Academy.

Memang beberapa waktu yang lalu aku pernah diminta untuk mengikuti tes penerimaan beasiswa Apple, tapi aku abaikan, karena masih fokus dan yakin dengan Flutter. Kemudian dapat email panggilan yang kedua, tapi masih aku abaikan. Karena takut ga bisa apa-apa nanti di sana, jadi aku pengen belajar iOS sendiri dulu. Ya, biar otakku tidak kosong-kosong amat. Terima kasih untuk teman yang tidak bisa aku sebutkan namanya. Karena berkat dia, aku bisa belajar iOS otodidak secara online. Kemudian aku dapat lagi email panggilan yang ketiga. Kesempatan itu datang padaku bukan hanya 2 kali, tapi 3 kali.

Sungguh perlu diapresiasi kinerja para panitia ini. Karena berkat mereka, aku tetap mendapatkan informasi tes batch ke 3. Dan akhirnya aku berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes seleksi. Tesnya sederhana koq, hanya basic coding termasuk logic, design, dan bisnis. Ya.., kalau aku bisa, aku yakin kamu juga pasti bisalah! Aku mah apa..

Dari artikel yang aku baca, katanya sih Apple Developer Academy ini hanya ada 2 di dunia, Brazil dan Italia. CMIIW. Dan Apple baru akan membuat kampus di Indonesia, pertama di Asia. Dan kabarnya, kampus yang di Indonesia juga masih belum di-approve oleh pihak Apple pusat. Pihak Apple akan kembali mengunjungi kampus yang berada di BSD Green Office Park, Sampora, Cisauk, Tangerang Selatan, Banten ini, untuk memastikan semuanya sudah sesuai dengan standar mereka.

Semangat

Semangat

Mungkin Tuhan sudah menentukan yang terbaik buat umatnya. Bukan berarti Apple yang terbaik ya, tapi mungkin ini adalah sebagai salah satu pembuka jalan untuk melakukan sesuatu hal yang lebih besar lagi. Aku sungguh tidak habis pikir, 2 kali mendapatkan kesempatan beasiswa untuk Android, dan kali ini beasiswa untuk iOS. Semakin luas wawasan yang aku terima. Puji Syukur. Dan semoga aku tidak berhenti hanya menjadi pelajar saja, penerima beasiswa, tetapi juga menjadi pembuka pintu kesempatan bagi orang lain, bagaimanapun caranya. Astungkara.

Pepatah tua mengatakan,

“Aku bisa saja jadi penonton, atau ikut jadi bagian dari sesuatu.”

Elon Musk – CEO SpaceX, Tesla, dan Neuralink

Jadi.., tetaplah kamu menjadi bagian dari sesuatu, entah apapun yang sedang kalian kerjakan. Jangan mau hanya menjadi penonton! Jika ada kesempatan seperti ini lagi, atau apapun itu, aku harap akan lebih banyak anak-anak muda Bali yang berani keluar dan belajar. Aku ingin kalian berbagi ilmu dan pengalaman sepulangnya kalian dari beraktifitas.

Hari ini adalah H-1 dari kelas pertama Apple Developer Academy. Wish me luck! Doakan agar aku bisa bawa Apple Developer Academy ini ke Bali. Dan semoga yang terbaik menyertai kita!!

Already missed you guys!
Tangerang – Banten

 

[Update]

Karena beberapa teman ada yang menanyakan informasi di mana pendaftaran beasiswa Apple Developer Academy ini, maka berikut aku share link-nya di sini. Silahkan apply, dan semoga lebih banyak yang bisa ikut di gelombang berikutnya.

Published inApple Developer Academy

One Comment

  1. IPGD IPGD

    There is always failure until you find your self.
    Being someone else to please others for comfort.
    Then, No self progression to be made.

    Congratz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2014 All rights reserved.